Serial terbatas tiga episode tentang ahli taktik legendaris asal Portugal itu membuktikan bahwa ia masih menjadi daya tarik box office yang besar
Sosok yang menjuluki dirinya sendiri sebagai ‘The Special One’ telah kembali ke panggung besar. Jose Mourinho bukan hanya baru saja memulai periode keduanya sebagai pelatih Real Madrid, tetapi ia juga menjadi subjek sebuah film dokumenter baru Netflix yang menawarkan pandangan menarik tentang karier kepelatihannya yang penuh trofi, yang kini telah berlangsung selama lebih dari 26 tahun.
Mourinho juga pernah menikmati dua periode masing-masing di Chelsea dan Benfica, serta menjadi sosok utama di pinggir lapangan pada Porto, Inter, Manchester United, Tottenham, Roma, dan Fenerbahce, dengan meraih delapan gelar liga dan dua trofi Liga Champions. Sebagai salah satu pelatih paling bertabur prestasi sepanjang masa, dan salah satu yang paling karismatik, Mourinho adalah ikon yang terus menyita perhatian dari seluruh dunia di usianya yang ke-63.
Seperti yang diharapkan setiap penggemar Mourinho, terdapat banyak pengungkapan menarik yang termuat dalam ketiga episode, yang direkam selama dua setengah tahun oleh sutradara Joel Pearlman dan diproduksi oleh Ventureland, perusahaan di balik film dokumenter David Beckham yang mendapat pujian dan juga dirilis di Netflix pada 2023.
Berikut ini, GOAL mengulas lima kejutan terbesar dari ‘Mourinho’, dimulai dengan kisah di balik perseteruannya yang terkenal dengan seorang pahlawan Madrid…
Casillas contoh dari budaya ‘manja’ Real

Petualangan pertama Mourinho di ibu kota Spanyol sukses dalam banyak hal: ia mengubah Real Madrid kembali menjadi tim yang sangat kompetitif, yang tidak hanya mampu bersaing ketat dengan Barcelona besutan Pep Guardiola yang mendominasi, tetapi juga menumbangkan mereka. Ia mempersembahkan kemenangan di final Copa del Rey atas rival abadi tersebut pada musim debutnya, sebelum meraih gelar Liga pada 2011-12 dengan raihan rekor 100 poin.
Namun, ia gagal membawa Real ke final Liga Champions, dan mereka tak punya banyak pilihan selain melepas Mourinho setelah kampanye yang sangat mengecewakan tanpa trofi pada 2012-13, di mana ia tampaknya kehilangan kepercayaan ruang ganti karena caranya memperlakukan Iker Casillas.
Kiper legendaris tersebut, yang mengumpulkan 752 penampilan dalam 25 tahun di Bernabeu, disingkirkan ke bangku cadangan di tengah laporan bahwa Mourinho geram dengan hubungannya bersama sesama pemain internasional Spanyol di Barcelona. “Hubungan antara saya dan Jose sangat dingin,” ujar Casillas dalam film dokumenter tersebut. “Pada tahun-tahun itu, saya benar-benar merasa segalanya dibawa ke batas di mana, pada akhirnya, tali itu putus.”
Mantan gelandang Real, Sami Khedira, kemudian menyatakan bahwa perselisihan itu membuat para bintang terbesar skuad berbalik melawan Mourinho, menambahkan: “Ruang ganti benar-benar seperti mimpi buruk, sejujurnya. Setelah itu, hubungan antara Jose dan banyak, banyak pemain menjadi rusak – seperti Cristiano [Ronaldo] dan para pemain Spanyol, Casillas, Sergio Ramos. Dan para pemain itu sangat, sangat penting bagi suasana tim.”
Mourinho, meski begitu, tidak menyesali caranya menangani situasi tersebut, dan merasa bahwa sikap Casillas mencerminkan rasa jumawa yang mengakar di dalam tim. “Tiga kali pertama saya berbicara dengan Casillas, sang kapten, hal pertama yang ia katakan kepada saya adalah, ‘Saya ingin meminta lebih banyak liburan untuk para pemain tim nasional’,” katanya. “Kali kedua ia berbicara dengan saya, ‘Saya ingin meminta Anda memajukan sesi latihan satu jam lebih lambat karena pada waktu yang Anda inginkan untuk latihan, lalu lintas di Madrid sangat padat’. Kali ketiga ia datang berbicara dengan saya, ‘Kami tidak mau pergi ke hotel. Kami lebih suka hanya berkumpul pada hari pertandingan dan langsung menuju stadion untuk bermain’. Dan dalam waktu singkat, saya menyadari mereka manja.”
Ketika ditanya tentang keakraban Casillas dengan para pemain Barcelona, Mourinho menjawab dengan gaya blak-blakan khasnya: “Ada hal-hal yang tidak saya terima dan tidak akan pernah saya terima, dan ketika seseorang tidak menghormati saya, itu masalah. Saya bilang, ini Barcelona, ini Real Madrid. Ketika kalian pergi ke tim nasional, kalian boleh mencium orang itu, tapi tidak sekarang. Ini perang.”
Rekrutan untuk menggantikan Sir Alex pada 2013

David Moyes bukanlah orang yang tepat untuk mewarisi tongkat estafet dari Sir Alex Ferguson di Manchester United; itu sebuah fakta. Manchester United terjun bebas ke posisi ketujuh di Premier League di bawah kepemimpinan Moyes, setelah memenangi gelar juara musim 2012-13, dan ia didepak dari kursi kepelatihan tanpa hormat hanya setelah sepuluh bulan.
Konsensusnya, masa jabatannya yang menyedihkan itu menjadi nada dasar bagi 12 tahun berikutnya, yang membuat United menjadi tim medioker di kancah domestik maupun Eropa. Namun, keadaan bisa saja berbeda seandainya mereka berhasil mendapatkan kandidat pengganti Ferguson pilihan pertama mereka.
“Ketika saya meninggalkan Real Madrid, saya sudah menandatangani kontrak untuk pergi ke Manchester United menggantikan Sir Alex,” ungkap Mourinho dalam serial Netflix tersebut. Ferguson kemudian berkata setelah menegaskan tawaran United kepada pelatih asal Portugal itu: “Sejauh yang saya tahu, dia sudah menerimanya. Lalu, dalam hitungan jam, semuanya berubah.”
Namun, Mourinho pada akhirnya melakukan putar balik yang emosional. Ferguson menambahkan: “Suatu malam, dia menelepon saya dan dia menangis dan berkata: ‘Alex, saya tidak bisa menerimanya. Saya sudah memberikan janji saya kepada Chelsea dan saya tidak akan mengingkari janji saya.’
“Alasan yang dia berikan kepada saya bisa saya pahami, tetapi saya kecewa.”
“Daya tarik luar biasa” dari pekerjaan di United tidak luput dari perhatian Mourinho, dan ia mengatakan bahwa ia merasa “tersanjung” dipilih sebagai penerus Ferguson, tetapi mereka tidak bisa memberinya apa yang paling ia dambakan saat itu. “Satu hal adalah cinta untuk sepak bola, hal lainnya adalah cinta untuk sebuah klub tertentu,” katanya. “Menurut saya ini lebih kuat daripada cinta untuk sepak bola dan pada dasarnya, setelah Real Madrid, saya perlu merasa bahwa saya dicintai. Bagi saya, kehilangan kesempatan untuk menjadi pelatih penerus Sir Alex Ferguson sangatlah dramatis, tetapi saya tidak menyesalinya karena itu adalah keputusan yang saya buat dengan hati saya.”
Mourinho awalnya terbukti benar setelah memenangi gelar Premier League ketiganya bersama Chelsea pada musim 2014-15, hanya untuk dipecat lebih awal pada musim berikutnya, yang membuka jalan bagi upaya perekrutan lain dari United. Setelah menggantikan Louis van Gaal pada Mei 2016, Mourinho membawa mereka meraih dua gelar Liga Europa dan Piala Carabao, tetapi dipecat pada Desember 2018 setelah awal musim terburuk klub di kasta tertinggi sejak musim 1990-91.
Perbedaan krusialnya adalah bahwa ia tiba di Old Trafford pada masa ketidakstabilan alih-alih keharmonisan. Seandainya keadaannya sebaliknya, Manchester United mungkin saja akan terus bersaing memperebutkan gelar-gelar terbesar dari tahun ke tahun.
Mendapatkan rekaman latihan Bolton di Chelsea

Hubungan Mourinho dengan Chelsea bermula pada 2004, ketika ia pindah ke Stamford Bridge setelah membawa Porto meraih kejayaan di Liga Champions. Chelsea kemudian memenangi gelar liga pertama mereka dalam 50 tahun, dan mengulang keberhasilan itu pada 2005-06, dengan Mourinho juga merancang kemenangan di Piala FA serta dua gelar Piala Liga sebelum pemecatannya pada September 2007.
Kesuksesan Chelsea dibangun di atas fondasi pertahanan yang sangat kokoh seiring para pemain menerima taktik pragmatis dan agresif ala Mourinho, tetapi kini terungkap bahwa analisis video juga memainkan peran penting dalam kebangkitan cepat klub tersebut. “Itulah terobosan dalam hal analisis pertandingan. Tidak banyak orang yang melakukannya sedalam yang kami lakukan pada waktu itu,” ujar Andre Villas-Boas, yang memimpin departemen tersebut untuk Mourinho, dan kelak juga menjalani masa sebagai pelatih kepala Chelsea dan Spurs. “Itu adalah zaman lawas pemutar DVD dan kadang pemutar DVD-nya tidak berfungsi, dan Jose biasa menghancurkan proyektor atau pemutar DVD-nya!”
Kapten Chelsea, John Terry, dibuat terkejut ketika rekaman sesi latihan Bolton ditayangkan dalam satu pertemuan tim tertentu saat Mourinho bersiap bertempur melawan Sam Allardyce. “Big Sam berkata: ‘Serang [William] Gallas, dia tidak terlalu bagus dalam duel udara’. Dia meludah dan sebagainya di depan mikrofon,” kata Terry. “Dan rasanya seperti – wah, siapa yang bisa mendapatkan rekaman dari tempat latihan seseorang? Aku sebenarnya sampai sekarang masih tidak yakin dari mana dia mendapatkan rekaman itu!”
Metode semacam itu mendapat sorotan tajam belakangan ini karena skandal ‘Spygate’ Southampton, tetapi skuad Chelsea selalu memiliki kepercayaan penuh terhadap cara kerja Mourinho. Terry bahkan pernah menerima suntikan pereda nyeri untuk kembali berlatih, sebagai respons atas diabaikannya ia oleh Mourinho ketika melaporkan cedera. “Untuknya, aku akan memberikan segalanya. Aku akan meninggalkan lapangan itu dalam peti mati demi dia,” ucap Terry dengan ekspresi yang benar-benar serius.
Sindiran soal cuti panjang untuk Guardiola

Rivalitas antara Mourinho dan Guardiola di Spanyol menghadirkan drama tanpa henti. Sering kali perhatian justru lebih tertuju pada pertempuran mereka di pinggir lapangan dan di konferensi pers ketimbang aksi di atas lapangan, dan ketegangan itu meluap lebih dari sekali.
Guardiola secara sarkastis menyebut rekan sejawatnya itu sebagai “the f*cking chief” pada 2011, sementara Mourinho menempatkan mantan pelatih Barca tersebut dalam kategori baru pelatih “yang mengkritik wasit ketika ia membuat keputusan yang benar”, dan menyebut bahwa ia seharusnya “malu” atas dua kemenangan Liga Champions-nya di Camp Nou setelah diuntungkan oleh kepemimpinan wasit yang “memalukan”.
Kepahitan berganti dengan rasa hormat ketika mereka bertemu kembali di Premier League, tetapi Mourinho tak bisa menahan diri untuk melontarkan sindiran halus kepada musuh lamanya dalam dokumenter itu. Guardiola saat ini tengah menjalani masa rehat panjang, setelah mengakhiri kekuasaannya selama 10 tahun di Manchester City pada Mei, dan ia juga pernah mengambil jeda panjang dari sepak bola setelah meninggalkan Barca pada 2012.
“Beberapa orang, mereka butuh masa rehat, dan itu adalah sesuatu yang saya benci. Saya benci kata itu,” kata Mourinho. “Bagi saya, masa rehat berarti kelemahan. Jangan bicara dengan saya soal masa rehat. Saya tidak pernah butuh istirahat. Saya akan beristirahat ketika Dia (Mourinho menunjuk ke langit) memutuskan untuk berkata: ‘Naiklah’.”
Sementara Guardiola mengakui bahwa ia “tidak punya energi” untuk melanjutkan di City, Mourinho mengklaim bahwa ia merasa “tidak utuh” setiap kali ia jauh dari bangku cadangan. “Saya bahkan tidak bisa membayangkan kapan saya akan menghentikan hidup saya di dunia sepak bola,” lanjutnya. “Saya bilang 10 tahun lagi, tapi mungkin lebih dari 10. Ini menyenangkan. Dulu, sekarang, dan akan selalu menyenangkan. Saya ingin memenangkan lebih banyak gelar. Saya ingin memenangkan gelar-gelar baru. Saya ingin mengulangi gelar-gelar itu.
“Saya ingin melakukannya di tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Saya ingin melakukannya di tempat-tempat yang pernah saya datangi sebelumnya. Duniaku adalah berjalan di sebuah stadion sepak bola bersama 50.000 atau 90.000 [suporter]. Saya pernah mengalami 100.000. Itulah duniaku. Tanpa sepak bola, ada sesuatu yang tidak utuh dalam diri saya. Tapi saya tidak menganggapnya sebagai obsesi. Saya tidak merasakannya sebagai obsesi. Hanya saja ketika Anda mencapai level tertentu, Anda ingin tetap berada di sana selamanya.”
Menariknya, Guardiola bersedia berkontribusi dalam dokumenter itu, tetapi hanya dengan syarat bahwa Mourinho memintanya secara langsung. Tentu saja, hal itu tidak pernah terjadi. Sutradara ‘Mourinho’, Pearlman, mengatakan kepada ESPN soal dinamika tersebut: “Bagi saya, itu menjelaskan segalanya tentang kedua karakter itu, dan itu sempurna.”
Membalas ‘dendam’ pada Abramovich bersama Inter

Mourinho juga jelas masih menyimpan rasa kesal terhadap Roman Abramovich, mantan pemilik Chelsea yang memecatnya pada 2007 dan 2015. Ia mengklaim bahwa pengusaha asal Rusia itu mulai ikut campur dalam urusan transfer, terutama ketika menuntut perekrutan Andriy Shevchenko dari AC Milan senilai £30 juta ($40 juta) pada musim panas 2006.
“Abramovich, punya gairah luar biasa terhadap sepakbola, tetapi tidak tahu apa-apa soal situasinya,” ujar Mourinho. “Shevchenko masuk ke meja negosiasi karena hubungan dengan bos, hubungan dengan agen, dan saya tidak pernah ingin merekrutnya, tetapi saya tidak pernah bilang tidak kepada siapa pun, jadi itu juga tanggung jawab saya. Anda ingin tahu pemain yang saya inginkan? [Samuel] Eto’o.”
Seolah sudah takdir, Mourinho pada akhirnya benar-benar bekerja sama dengan Eto’o dalam perannya berikutnya di Inter, dan penyerang asal Kamerun itu memainkan peran kunci dalam menyingkirkan Chelsea dari Liga Champions 2009-10 dengan mencetak gol kemenangan pada leg kedua babak 16 besar di Stamford Bridge. Inter kemudian menjuarai turnamen tersebut, tetapi mengalahkan Abramovich memberi Mourinho kepuasan lebih besar dibanding kemenangan lainnya.
“Saya bermain melawan Roman dalam laga itu,” kata Mourinho. “Saya bermain melawan orang yang memecat saya. Saya pulang dengan bahagia dan dia pulang dengan kesal. Karena saya tahu betapa dia mencintai Chelsea, saya tahu betapa dia gemar menang. Tetapi saya butuh balas dendam, karena sepakbola milik orang-orang seperti saya. Yang lainnya adalah para penyusup yang tidak selayaknya ada. Sepakbola milik para pemain, milik para pelatih, milik para suporter. Sepakbola akan selalu menjadi milik kami.”